Mengenal lebih dekat Desa Wisata Tjokro
Desa Cokro termasuk kedalam wilayah Kecamatan Tulung Kabupaten Klaten. Secara topografi terletak di ketinggian antara 0-180 MDPL. Sebagian besar penduduk Cokro mempunyai mata pencaharian di bidang pertanian.
Desa Cokro merupakan salah satu destinasi wisata yang terkenal di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Daya tarik utama dari desa ini adalah Umbul OMAC Cokro, sebuah mata air alami yang menghasilkan debit air sangat besar dan jernih.
Selain keindahan alamnya, Desa Cokro juga menyimpan pesona budaya dan kearifan lokal yang menarik untuk dijelajahi, menjadikannya tempat yang kaya akan keindahan dan nilai tradisi
Desa Cokro merupakan salah satu desa yang terletak di wilayah Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah. Nama Cokro diambil dari kata Cakra, Pusaka Krisna tokoh pewayangan Jawa. Penamaannya berdasar pada penuturan pini sepuh atau kademangan dan berkaitan dengan adanya sumber mata air yang dianggap sebagai sumber panguripan. Wilayah ini memiliki sumber mata air yang dinamai Umbul Ingas dan kini menjadi objek wisata desa serta menjadi sumber air masyarakat Cokro. Umbul Ingas dinamai demikian karena merujuk pada adanya pohon-pohon Ingas disekitar sumber mata air tersebut. Masyarakat percaya bahwa pohon Ingas berperan untuk menjaga kesucian dan kejernihan mata air.
Sumber mata air ini telah ada sejak abad ke-9 dan dulunya mata air ini digunakan untuk Jamasan (upacara pembersihan pusaka) pada masa Raja-Raja Surakarta. Hal ini diperkuat dengan adanya peninggalan batu yang menjadi tempat duduk raja dan masih ada hingga sekarang. Selain itu, sumber mata air Umbul Ingas dulunya juga digunakan sebagai tempat untuk menjalankan kegiatam tradisi seperti Padusan yang dilakukan menjelang bulan Ramadhan dan Kungkum (berendam) sebagai bentuk ritual masyarakat Jawa.
Pemberian nama “Cokro” pada umbul Ingas berasal dari nama desa di mana umbul berada. Umbul Cokro diperkirakan telah digunakan sejak abad ke-9 dan berkembang pesat pada masa pemerintahan Paku Buwono IX Kasunan Surakarta di abad ke-19. Kala itu, sumber mata air ini dimanfaatkan sebagai lokasi peristirahatan dan pemandian bagi bangsawan dan spiritualis keraton.
Desa Cokro berdiri sekitar tahun 1944 dibawah pimpinan lurah Harto Darmanto hingga tahun 1988, kemudian kepemimpinan Desa Cokro dilanjutkan oleh Bapak Sukirno yang menjabat sejak tahun 1989 hingga tahun 2007, selanjutnya dipimpin oleh Bapak Sutiyanto pada tahun 2007 sampai tahun 2019, dan sejak tahun 2019 hingga sekarang dipimpin oleh Bapak Heru Budi Santosa, S.E.